Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Oktober 2014

Disuntik Gen Manusia, Tikus-tikus ini Jadi Pintar

Dalam film-film fiksi ilmiah (sci-fi) kadangkala menggambarkan hewan cerdas hasil eksperimen dengan mengubah komposisi gen mereka. Di dunia nyata, perkembangan ke arah tersebut dimungkinkan. 

Massachusetts Institute of Technology melakukan eksperiman dengan menggabungkan gen manusia - FOXP2 - dan menyusun ulang pada susunan gen tikus, menghasilkan tikus yang belajar cara menemukan makanan lebih cepat dibanding tikus normal.



Eksperiman semacam ini juga pernah dilakukan tahun 2009. Ditemukan, FOXP2 dari manusia mengembangkan neuron yang lebih kompleks, sekaligus membentuk sirkuit otak yang lebih efisien.

"Tidak ada yang tahu bagaimana otak membuat transisi tersebut, dari berpikir secara sadar untuk melakukannya secara tidak sadar," kata Ann Graybiel, penulis laporan di Massachusetts Institute of Technology, seperti dilansir ABC Science.

Dari temuan itu, Graybiel dan tim melakukan eksperimen ulang menggunakan ratusan tikus yang terbagi dalam dua kelompok. Grup pertama hasil rekayasa genetika, dan grup kedua tikus normal.

Semua tikus tersebut ditempatkan pada labirin yang kompleks. Tujuan akhir menemukan makanan, yakni sepotong cokelat. Pada beberapa bagian tikungan di labirin, ditempatkan beberapa tanda seperti "T" untuk persimpangan, "belok ke arah kursi". Jadi setiap tikus punya pilihan, memperhatikan tanda atau merasakan tekstur lantai labirin - halus atau kasar.

Hasilnya, tikus yang sudah mendapat rekayasa gen manusia bisa menemukan cokelat dalam 7 hari. Sementara tikus normal menghabiskan waktu hingga 11 hari.

Anenya, ketika tanda-tanda pada labirin dihapus sehingga tetikus itu hanya bisa menebak dari tekstur lantai, tikus hasil rekayasa dan tikus normal menemukan cokelat pada waktu bersamaan.

Berdasar eksperimen itu, Graybiel menyusun hipotesa, bahwa gen manusia tidak meningkatkan kemampuan kognitif yang fleksibel. Namun gen manusia membuat otak tikus berpikir secara sekuen, yang disebut pembelajaran deklaratif. Contohnya seperti kita, manusia belajar mengingat secara sadar tanda-tanda lalu lintas secara otomatis bila berulang melewati jalan yang sama.

Penelitian yang tertuang dalam jurnal "Proceedings of the National Academy of Sciences" ini bertujuan untuk mempelajari kemampuan bayi yang belajar bahasa secara otomatis, dengan menirukan secara sadar kata-kata yang mereka dengar.

Kamis, 19 Juni 2014

Laboratorium Amerika Kembangkan 324 Senjata Biologis

Download versi PDF
Amerika telah mengembangkan sebanyak 324 Bio-Laboratorium, mengapa hal ini bisa terjadi? Tentu saja bisa. Karena sejak puluhan tahun lalu, hingga pemerintahan Presiden Obama bahkan sampai detik ini tetap bersikukuh menolak adanya protokol pemeriksaan yang terkandung dalam Konvensi tentang pelarangan pembuatan dan penyimpanan senjata biologis dan toksin.

http://www.novinite.com/media/images/2012-11/photo_verybig_145483.jpg

Di tengah-tengah optimisme dunia terhadap Presiden Barrack Obama yang akan melucuti kebijakan militerisasi politik luar negeri Amerika ke seluruh dunia, muncul informasi yang cukup mencemaskan beberapa kalangan yang berwenang di bidang politik luar negeri dan pertahanan.

Menurut informasi yang berhasil diperoleh tim riset Global Future Institute dari sebuah sumber di Departemen Luar Negeri, Amerika saat ini sedang melakukan penelitian secara intensif dalam bidang Mikro-organisme, Patogen tinggi dan virus-virus berbahaya.

Alhasil, sampai sekarang komunitas internasional sama sekali tidak memiliki mekanisme kontrol atau pengawasan yang efektif mengenai adanya komponen-komponen yang berpotensi untuk dijadikan persenjataan biologis dan toksin yang dimiliki Amerika seperti bio-gen.


Bahkan berbagai elemen masyarakat (civil society) yang bermaksud untuk melakukan investigasi mengenai keberadaan dan peran bio-laboratorium, tidak memiliki kewenangan dan legalitas untuk mendesak diadakannya penyelidikan mengenai transparansi peran dan pengelolaan berbagai bio-laboratorium yang ada di Amerika, seperti di Los Alamos.

Yang terjadi justru kebalikannya. Dalam tahun-tahun terakhir ini berbagai program penelitian dalam bidang biologi mendapat banyak dana dari Pemerintah. Menurut informasi sumber Departemen Luar Negeri kepada Global Future Institute, Amerika berencana akan membangun 20 laboratorium baru high-level biosecurity, dan 2 laboratorium yang secara khusus untuk meneliti bio-gen yang masuk kategori berbahaya dan paling menular.

Bukan itu saja. Amerika kabarnya juga akan melakukan modernisasi obyek-obyek penelitian mengenai senjata biologis. Dan sarana untuk proyek ini, Amerika sudah menyiapkan sebuah blok khusus di kompleks laboratorium nuklir di Los Alamos dan Livermors.

Bahkan di lokasi ini, akan dilaksanakan sebuah penelitian mengenai bisul Siberian (malignant antrax), penyakit pes, dan botulisme.


Lemahnya Sistem Pengamanan

Sumber Global Future Institute juga menginfromasikan bahwa bulan Mei 2014 lalu Defense Science Board yang berada dalam kewenangan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, telah mengadakan pemeriksaan tingkat keamanan bio-laboratorium Amerika baik yang dikelola militer maupun sipil.
Ternyata ada temuan yang cukup mengejutkan. Bahan-bahan yang disimpan dalam bio-laboratorium dilaporkan banyak yang hilang.

Inilah yang terjadi di salah satu bio-laboratorium bernama United States Army Medical Science and Research Institute of Infectious Desease (USAMRIID). Ketika diperiksa, ternyata ada banyak sekali bio-gen yang hilang dari penyimpangan di bio-laboratorium tersebut.

Ini bisa terjadi karena lemahnya sistem perhitungan dan pengawasan atas penyimpanan biogen berbahaya tersebut.

http://eharagen.sun.macserver.jp/images/usamriid.jpg
The "Dan Crozier Building", at USAMRIID, Fort Detrick, Maryland. 
(wikimedia.org)

Lembaga ini tercatat sebagai tempat penyimpanan biopatogen terbesar di Amerika, dan tempat untuk melakukan proyek genetic engineering penyakit berbahaya.

Akibat temuan tersebut, pada Februari 2014 lalu laboratorium yang masuk kategori security tingkat-4 (tertinggi) tersebut akhirnya ditutup karena dinilai ada banyak kelemahan dalam sistem perhitungan dan kontrol atas biogen.

Tentu saja hasil temuan ini selain tidak menggembirakan, juga cukup mengundang kecemasan masyarakat dunia internasional.
Bayangkan saja, di refrigator bio-laboratorium ini ternyata ditemukan lebih dari 9200 patogen yang tidak terdaftar dalam database tertentu!

Jumlah patogen yang tidak terdafter di base tersebut tentu saja bukan jumlah yang sedikit, mengingat jumlah total patogen sekitar 66000 specimen.

Lebih parah dari itu, rapuhnya mekanisme pengaman di jaringan komputer kerja institutte tersebut, pada perkembangannya bisa dipenetrasi atau dimasuki oleh kelompok terorirs, atau orang-orang yang berniat untuk melakukan suatu operasi khusus bermodus teror.

Dengan begitu, lemahnya sistem pengamanan, dengan mudah pemerintah Amerika akan berdalih bahwa kelompok terorirs telah berhasil menembus pengamanan bio-laboratorium tersebut, dan menyebarkan virus berbahaya tersebut baik di wilayah Amerika maupun di Luar Negeri.

http://scienceprogress.org/wp-content/uploads/2008/06/biosecurity_591.jpg

Pertanyaan yang penting dikemukakan di sini adalah, apakah ini memang murni lemahnya sistem pengamanan di bio-laboratorium itu, atau memang didasari kesengajaan alias kebijakan diam-diam pemerintahan Washington agar bebas dari tanggung jawab ketika pada perkembangannya virus berbahaya dan menular tersebut menyebar di wilayah Amerika maupun ke seluruh dunia.

Indikasinya memang cukup mencurigakan. Karena lemahnya sistem pengamanan bio-laboratorium justru kebanyakan terjadi di beberapa obyek-obyek militer Amerika. Hal ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena ada ribuatn specimen yang tidak terdafter di obyek-obyek militer.

Bahkan menurut laporan Center for Desease Control and Prevention, di Amerika sekarang ini ada sekitar 1400 spesialis yang bekerja di bidang biogen dan toksin di 324 biolaboratorium, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta.

Karena itu, Global Future Institute mendesak berbagai pihak berwenang di Amerika maupun berbagai kalangan yang berkecimpung dalam bidang bio-laboratorium, untuk secepatkanya mengambil langkah-langkah dalam rangka menjamin keamanan di bio-laboratorium.


Misteri Wabah Kolera di Zimbabwe dan Papua

Dari berbagai riset dan informasi yang berhasil diolah oleh tim Global Futurre Institute, Amerika memang dalam beberapa tahun belakangan ini aktif mengembangkan jenis senjata biologi dan kimia di laboratorium rahasia di Los Alamos, New Mexico. Diduga beragam senjata biologi dan kimia telah diuji cobakan di dunia, baik dalam situasi perang maupun damai.

Pernah dengar Wabah Kolera yang melanda Zimbabwe pada tahun 2008? Wabah kolera Zimbabwe 2008 ini adalah epidemik kolera di Zimbabwe yang mulai terjadi pada Agustus 2008.

Salah satu tenda barak yang digunakan sebagai rumah 
sakit saat wabah Kolera melanda Zimbabwe pada tahun 2008 lalu (republika)


Pada Desember 2008, lebih dari 10.000 orang terinfeksi dan wabah telah menyebar ke Botswana dan Afrika Selatan. Pemerintah Zimbabwe menyatakan keadaan darurat dan meminta bantuan dunia internasional.

Wabah yang disebarkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri ini menyebar begitu cepat. Sehingga dalam beberapa bulan saja, kolera menjadi epidemi yang menewaskan hampir 3500 warga.

Bahkan World Health Organization (WHO) mencatat wabah kolera di negeri yang dipimpin diktator Robert Mugabe ini, telah menginfeksi 67.945 orang. WHO menggambarkan situasi epidemi kolera di Zimbabwe sebagai ”tidak terkontrol.”

Melihat jumlah korbannya yang lebih dari 60 ribu warga, wajar jika muncul kecurigaan jangan-jangan Amerika dan Inggris memang sengaja menyebar virus ini mengingat dampaknya hampir sama jika kedua negara tersebut menggunakan senjata biologi.


Tujuannya, apa lagi kalau bukan untuk menjatuhkan rezim Robert Mugabe yang memang tidak sejalan dengan haluan politik Amerika dan Inggris. Benar tidaknya memang masih harus dibuktikan.

Namun di Papua, tepatnya di Lembah Kamuu, Distrik Monemani, Kabupaten Paniai, penyakit kolera dan muntaber juga mewabah. Sekitar 200 orang meninggal sejak April 2008.

Mungkinkah ini rekayasa? Dari berbagai temuan, memang ada beberapa kasus wabah kolera dimunculkan dengan memasukkan mayat ke dalam sumur untuk mencemari air.

Dalam kasus lain, berkaitan dengan flu burung misalnya, diduga dimunculkan dengan penyuntikan unggas supaya menularkan virus ke manusia. Keanehan yang muncul adalah, mengapa bisa ke manusia, padahal dalam hitungan detik, virus flu burung akan mati.


Perang Genetika Lewat Flu Burung

Rantai kehidupdan Virus Flu Burung (H5N1)


H5N1 digunakan sebagai senjata biologi karena bisa menimbulkan kematian pada suatu populasi masyarakat.

Menurut beberapa informasi yang masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut, struktur virus H5N1 bisa dibuat sesuai dengan kemauan si perancangnya.

Sebab virus ini terdiri dari delapan segmen yang masing-masing bisa berdiri sendiri. Bisa segmen dari manusia, unggas dan hewan lainnya.

Pada kelompok manusia yang memiliki kemiripan profil DNA, virus tidak harus bermutasi dulu untuk dapat menular. Virus unggas dapat secara cepat mengalami perubahan spesiesifitas reseptor, sehingga menular antar manusia.
Yang pasti, kunci dasar perang biologi adalah menciptakan ketakutan atau teror tentang siapa yang akan terinfeksi.

http://cdn.ar.com/images/_t/500x0/stories/09/namru2-jpeg.jpg
Lembaga riset Angkatan Laut (Naval Medical Research Unit-2 / NAMRU-2)

Karena itu, Indonesia harus waspada terhadap kemungkinan dijadikan lokasi untuk pengembangan proyek senjata biologis.

Terbukti bahwa Amerika, melalui lembaga riset Angkatan Laut (Naval Medical Research Unit-2/ NAMRU-2), bisa langsung mengambil sampel virus dari korban di Indonesia dengan cara-cara yang tersembunyi.

Sehingga dari berbagai temuan terungkap bahwa data sequencing DNA-H5N1 yang seharusnya disimpan di WHO CC Hongkong, justru disimpan di Los Alamos National Laboratory, New Mexico.
Di tempat rahasia ini pula, data H5N1 hanya boleh diketahui tim kecil yang beranggotakan 15 grup peneliti, di mana WHO hanya menempatkan empat peneliti.

Mulanya Los Alamos dikelola Universitas California. Laboratorium multidisiplin terbesar di dunia ini, 1/3 stafnya adalah fisikawan,1/4 lainnya teknisi, sisanya kimiawan, ilmuwan material, ilmu geografi, dan disiplin lainnya.

Namun seiring waktu, penelitian di Los Alamos lebih terfokus pada kepentingan pertahanan Amerika, utamanya riset mengenai senjata nuklir. Di tempat ini lalu dikembangkan disain senjata nuklir dan pusat riset plutonium.


Los Alamos, Sarang Pembuatan Senjata Biologis?


Sekadar informasi, di Los Alamos ini pula pada masa perang dunia kedua, Amerika merancang bom atom yang akhirnya pada Agustus 1945 dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang.

Di era perang dingin, Pentagon mulai mengembangkan kembali senjata biologi. Untuk itu, di Los Alamos juga, kemudian dibentuk divisi riset biologi molekuler.

Divisi ini berwenang untuk menyelidiki semua virus atau bakteri dengan tingkat penyebaran tinggi. Disebut-sebut virus ebola juga menjadi bahan kajian di laboratorium itu.

Bahkan sebelum virus antrax digunakan dalam bio-teror pada September 2001, ilmuwan Los Alamos sudah melakukan riset kemungkinan penggunaan antrax sebagai senjata biologi.

Divisi yang berwenang mengembangkan vaksin antrax belakangan ini dikenal sebagai BASIS (Biological Aerosol Sentry and Infromation System).

Singkat cerita, Los Alamos disinyalir telah digunakan sebagai tempat paling aman menyimpan dan mengembangkan berbagai macam virus mematikan untuk kepentingan senjata biologis.

Penyakit "kaki gajah" dari virus kaki gajah.


Dalam perang Kamboja 1970, ketika Amerika membela kubu anti komunis melawan komunis, Amerika dikabarkan sempat menggunakan senjata biologis dari virus kaki gajah produk Los Alamos.

Lebih gilanya lagi, pada Perang Bosnia 1991-1995, Los Alamos menciptakan virus penghancur tulang mirip bone marrow suppression. Senjata itu kabarnya menewaskan 98 ribu militer dan penduduk sipil.

Karena itu semua, riset biologi di Los Alamos sudah seharusnya berada dalam sistem pengawasan ketat dari masyarakat internasional berupa sebuah lembaga dengan wewenang untuk melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap penyimpangan secara ilegal virus-virus berbahaya atau bahan-bahan lainnya yang berpotensi untuk bisa digunakan sebagai senjata biologis.
Sebaran kasus Flu Burung (Avian influenza) di Indonesia


Virus Asal Indonesia di Los Alamos

Seperti pernah juga diungkapkan oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Jika DNA virus H5N1 hanya dikuasai oleh satu kelompok saja, besar kemungkinan bisa disalahgunakan untuk pembuatan senjata biologi.
Ironisnya, tak hanya di Los Alamos. Setidaknya ada 58 virus asal Indonesia yang disimpan di Bio Health Security (BHS), sebuah lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.

Jika benar dugaan virus H5N1 strain Indonesia telah dijadikan senjata biologi, boleh jadi kekuatannya sangatlah luar biasa. Sebab, H5N1 strain Indonesia dikenal sebagai jenis virus paling ganas!

NAMRU-2, Jakarta, Inside the lab.


Kabarnya, sampel virus flu burung yang menewaskan satu keluarga di Tanah Karo, Sumatera Utara, Mei 2006, ternyata juga dikirim ke Los Alamos.

Agustutus 2006, Los Alamos ditutup, namun diambil oleh oleh BHS yang berada dalam kendali Departemen Pertahanan Amerika. Dan ternyata, masih tetap melakukan penelitian tentang virus H5N1 sampai sekarang.

Lalu bagaimana mekanisme pengawasan yang sudah berjalan selama ini? Sejumlah negara memang sudah meratifikasi The Convention of the Development, Production and Stockpiling of Bacteriological and Toxin Weapons and on Their Destruction atau yang lebih dikenal dengan Biological Weapons Convention (WC) pada 19 Februari 1992.

Sayangnya, konvensi BWC ini tidak didukung keberadaan sistem verifikasi untuk mengawasi kepatuhan negara-negara terhadap berbagai ketentuan dalam konvensi.


Sumber :

Selasa, 22 April 2014

Terungkapnya Misteri Ribuan Kodok yang Meledak di Hamburg

Ini adalah sebuah misteri dan fenomena yang menarik yang terjadi di tahun 2005 dan telah berhasil dipecahkan oleh para ilmuwan. Ya, pada tahun itu, di sebuah danau kecil di kota Hamburg, lebih dari seribu ekor kodok ditemukan mati meledak. Apa yang menyebabkan kodok-kodok ini mati meledak atau siapa yang membunuh mereka sekejam itu?



Pekerja lingkungan di Hamburg mengatakan peristiwa ini seperti adegan dari dari film horor atau film fiksi ilmiah, dimana kodok-kodok terus menggembungkan tubuhnya seperti balon dengan sangat besar dan berkedut selama beberapa menit, sebelum mereka tiba-tiba meledak.

"Ini mengerikan," kata ahli biologi Heidi Mayerhoefer kepada harian Hamburger Morgenpost.

"Kodok-kodok itu meledak, isi perut mereka ke luar tersebar hingga satu meter persegi. Tapi kodok-kodok itu tidak segera mati, mereka terus berjuang selama beberapa menit".

Pers segera memblow up fenomena ini, dan memberi judul besar besar seperti "Situs Pembantaian di distrik Altona Hamburg" dan "Kolam Kematian Hamburg". Pemerintah setempat langsung memperingatkan warganya agar menjauh dari danau kecil tersebut.

Sebenarnya Institute for Hygiene and the Environment Hamburg telah secara teratur men-tes kualitas air di kota itu dan tidak menemukan bukti bahwa air disana tercemar.

Orang-orang mulai berspekulasi tentang penyebab fenomena ini. Ada yang menuduh itu disebabkan oleh virus, jamur dan bahkan ada yang mengatakan bahwa kodok-kodok itu sengaja bunuh diri untuk mengontrol kelebihan populasi mereka.

Untunglah seorang ilmuwan spesialis amphibi terkenal di Jerman bernama Frank Mutschmann datang dan menyelidiki fenomena ini. Dia memeriksa kodok-kodok ini.


Dr Frank Mutschmann menemukan semua kodok memiliki sayatan melingkar yang sama di punggung mereka, cukup kecil dan diperkirakan itu adalah pekerjaan paruh burung. Lalu ia menemukan sesuatu yang aneh, hati mereka hilang!

Tidak ada bekas gigitan atau cakaran, jadi tentu kodok-kodok tersebut tidak diserang oleh rakun atau tikus, yang juga akan memakan seluruh kodok, bukan hanya hatinya

Mutschmann berkesimpulan bahwa itu jelas pekerjaan gagak, burung yang cukup pintar untuk mengetahui bahwa kulit kodok ini beracun dan juga menyadari bahwa hati adalah satu-satunya bagian yang layak dimakan.

Begitu hatinya hilang, kodok-kodok ini baru menyadari bahwa mereka telah diserang, yang menyebabkan mereka membusungkan dirinya sebagai mekanisme pertahanan alami.

Tapi karena kodok tidak memiliki diafragma atau tulang rusuk, tanpa hati, tidak ada yang menahan organ mereka lainnya. Paru-paru mereka akan terus meregang hingga di luar proporsinya dan akhirnya robek, membuat organ-organ dalam katak berhamburan keluar.


Fenomena kematian mengerikan dari kodok-kodok ini, pada kenyataannya telah terdokumentasi dengan baik sebelumnya. Pertama kali tercatat di Jerman pada tahun 1968, serta di Belgia, Denmark dan Amerika.

Kodok Hamburg mulai meledak saat musim kawin mereka yang seminggu lamanya. Dr Mutschmann percaya saat itulah gagak masuk untuk mencuri hati kodok yang terlalu sibuk menikmati tingginya gairah seksual.

Lalu apa yang harus manusia lakukan pada gagak, untuk menyelamatkan kodok? Kodok, banyak digemari di Jerman, dan adalah spesies yang dilindungi. Tapi begitu juga gagak. Dr Mutschmann menjawab: "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan! Ini hanyalah proses alam."


Satu misteri kini telah terpecahkan, namun tetap saja menimbulkan banyak pertanyaan lainnya, seperti: Darimana gagak tahu bahwa hati kodok adalah satu-satunya organ kodok yang penuh nutrisi dan layak dia makan? Dan dari mana gagak tahu letak hati kodok secara akurat?

Memang tidak ada yang tahu, namun kita telah mengetahui bahwa gagak adalah anggota famili Corvidae yang memang dikenal paling cerdas diantara para burung lainnya dan memiliki kemampuan untuk belajar. Bahkan lewat sebuah test, gagak dinyatakan memiliki "self awareness", sesuatu yang selama ini dianggap hanya dimiliki oleh manusia.

Salah satu contoh kecerdasan gagak seperti yang diceritakan dalam video dibawah, adalah gagak yang menemukan biji walnut yang keras dan tidak dapat dia pecahkan dengan hanya menjatuhkannya saja.

Dia kemudian memanfaatkan kendaraan-kendaraan yang melintas di jalan raya untuk melindas dan memecahkan walnut tersebut. Namun tentu setelah walnut tersebut terlindas pecah, akan sulit bagi gagak untuk turun mengambilnya mengingat banyaknya kendaraan yang lalu lalang di jalan raya, bisa-bisa dia tewas tertabrak.

Nah, gagak bisa menemukan solusi dari masalah tersebut. Dia menjatuhkannya di persimpangan jalan yang terdapat Lampu lalulintas (traffic light). Setelah walnut terlindas pecah oleh kendaraan, gagak tinggal menunggu lampu merah dan saat kendaraan berhenti, maka dengan aman dia turun dan mulai menikmati walnut tersebut, cerdas bukan . . .



Sumber :
versesofuniverse

Senin, 06 Januari 2014

Solanum malacoxylon: a toxic plant which affects animal calcium metabolism

http://www.homeoint.org/articles/horvilleur/solanummalacoxylon.jpg
The "enteque seco" is a disease of calcinosis, i.e., pathological deposition of calcium phosphate in soft tissues, which occurs in grazing cattle in Argentina and is of considerable economic importance.

Selasa, 05 November 2013

Ilmuwan Berhasil Menciptakan Darah Buatan dari Ekstrak Cacing Laut

Ilmuwan berhasil mengkreasikan darah buatan dari bahan garam mineral, air, dan protein hemerythrin yang diekstrak dari cacing laut.

Radu Silaghi-Dumitrescu dari Babes-Bolyai University di Cluj-Napoca berharap bahwa darah buatan itu bisa mencukupi permintaan darah dan mencegah penularan penyakit lewat transfusi.

Jumat, 25 Oktober 2013

Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan



Berikut ini adalah tabel perbedaan antara sel hewan dan sel tumbuhan :

Postingan Lama Beranda
Branch